Akhir-akhir ini
banyak pihak yang menyoroti tayangan infotainment. Komentar mereka mayoritas cenderung
negatif. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya program infotainment yang ditayangkan
tidak layak dikonsumsi publik. Misalnya gosip yang banyak menimbulkan fitnah, adegan
kekerasan, video porno, seperti : adegan mesum, ciuman, buka-bukaan, cara berpakaian
tidak sopan, gerakan/tarian erotis, yang mengandung unsur pornoaksi/pornografi
dan sebagainya. Ironisnya tontonan itu menjadi favorit dan popular bagi
masyarakat. Terutama bagi kaum remaja yang sedang mencari identitas/jati diri,
mencari sosok panutan sebagai sang idola, apalagi pelakunya public figure yang
mereka idolakan.
Pendapat Yulianto : Saat mencari sosok panutan itulah yang harus menjadi
perhatian bagi orang tua dan guru di sekolah. Dan sekarang banyak cara untuk
mencari idola yang diharapkan sesuai dengan keinginannya. Melalui tayangan TV
dan internet sangat mudah untuk diakses. Tapi sebagian besar tayangan-tayangan
TV sekarang ini jauh dari kata mendidik. Dan ini yang setiap hari dikonsumsi
oleh remaja (Media, September 2010). Tidak terasa bahwa hal tersebut memberikan
dampak negatif yang sungguh luar biasa
bagi mereka juga bagi negara.
Karena dampaknya sangat membahayakan
masa depan bangsa dan negara, maka dalam rapat kerja Komisi I DPR RI dengan
Dewan Pers diusulkan perlunya sensor tayangan infotainment. Bahkan ada sebagian
pihak yang mendukung/menyetujui tayangan infotainment tersebut diharamkan.
Lain halnya dengan tayangan TV yang
bersifat religi, pendidikan yang di
dalamnya terdapat unsur character building dan sejenisnya, sedikit sekali
peminatnya, pendukung dan fansnya. Program tersebut sangat sulit memperoleh
predikat favorit, apalagi popular. Sebenarnya dalam program itu terdapat pendidikan karakter yang penuh
makna/arti dan sangat bermanfaat serta
dapat diambil untuk dijadiakan suri tauladan. Bagaimana cinta terhadap Tuhan,
bagaimana sikap toleransi, sikap pemimpin yang memiliki rasa keadilan dan
sebagainya. Tentu sikap/perilaku atau tindakan yang tidak bertentangan dengan
UUD 1945 dan Pancasila. Dalam acara tersebut, pemerintah menaruh harapan besar
atas partisipasi aktif masyarakat, utamanya remaja sebagai generasi penerus
bangsa.
Telah banyak acuan yang berkaitan dengan pembangunan karakter bangsa
(character building), baik melalui pendidikan formal (sekolah), non formal
(kursus/balai latihan kerja) maupun informal (keluarga). Namun hasilnya belum
memuaskan, bahkan cenderung merosot, karena semakin derasnya arus globalisasi
yang sulit dibendung.
Contoh character building pada masa orde
baru, yaitu dengan P4 (36 butir P4). dan di era reformasi saat
ini, Indonesia Heritage Foundation
merumuskan nilai-nilai yang layak untuk diajarkan kepada anak-anak untuk
menjadikannya pribadi berkarakter yang disebut 9 Pilar Karakter, yakni : (1) cinta Tuhan dan kebenaran ; (2)
bertanggung jawab, berdisiplin dan mandiri ; (3) Mempunyai amanah ; (4)
bersikap hormat dan santun ; (5) mempunyai rasa kasih saying, kepedulian dan
mampu kerja sama ; (6) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah ; (7)
mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan ; (8) baik dan rendah hati ; (9)
mempunyai toleransi dan cinta damai. Nilai-nilai itu kini semakin terkikis dari
sanubari warga negeri ini. Untuk itulah melalui pendidikan karakter,
nilai-nilai tersebut diharapkan dapat dipancangkan kembali di benak generasi
penerus bangsa (Nur Miftahul Fuad, 2010).
Sebagai
inti tujuan character building/pembangunan karakter bangsa sebenarnya adalah mewujudkan
insan yang memiliki kepribadian (
Berbudi Pekerti Luhur ) dan berakhlak mulia. Hal ini memang mudah diucap, tetapi sulit diperbuat,
mudah dikata, tetapi sulit terlaksana. Tidak semudah membalik telapak tangan.
Oleh karena itu jika dilihat wujudnya/ hasilnya masih samara-samar (belum
jelas).
Melihat uraian di atas, maka kita dapat
membandingkan antara infotainment dengan character building, ibarat keduanya
sama-sama memiliki rapor. Dalam kurun
waktu tertentu (misalnya: 1 tahun), jika diperhatikan masing-masing rapor
tersebut terlihat jelas nilainya. Infotainment memiliki grafik nilai selalu naik, sedangkan character building, grafik
nilainya naik turun, kadang datar, bahkan terus menurun. Jika keduanya diibaratkan
lagu, seperti lagu yang cuplikan syairnya berbunyi : Bagai melukis di atas
Pasir, (untuk infotainment) , dan Bagai melukis di atas air (untuk character
building). Atau dengan rumus : I : C
= P : B (I: Infotainment; C:
Character building; P: Popular; B: Biasa). Walau demikian jangan putus asa, “Satukan tekad, samakan langkah, singsingkan
lengan baju. Maju terus, pantang mundur”. Mari kita bangun karater bangsa
ini dengan pendidikan karakter. Agar bangsa Indonesia ke depan tidak sampai mengalami degradasi moral lagi. Sekali
lagi, jangan pernah putus asa…. !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar