Kamis, 16 Agustus 2012

Perbandingan antara infotainment dan character building


        Akhir-akhir ini banyak pihak yang menyoroti tayangan infotainment. Komentar mereka mayoritas cenderung negatif. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya program infotainment yang ditayangkan tidak layak dikonsumsi publik. Misalnya gosip yang banyak menimbulkan fitnah, adegan kekerasan, video porno, seperti : adegan mesum, ciuman, buka-bukaan, cara berpakaian tidak sopan, gerakan/tarian erotis, yang mengandung unsur pornoaksi/pornografi dan sebagainya. Ironisnya tontonan itu menjadi favorit dan popular bagi masyarakat. Terutama bagi kaum remaja yang sedang mencari identitas/jati diri, mencari sosok panutan sebagai sang idola, apalagi pelakunya public figure yang mereka idolakan.
Pendapat Yulianto : Saat mencari sosok panutan itulah yang harus menjadi perhatian bagi orang tua dan guru di sekolah. Dan sekarang banyak cara untuk mencari idola yang diharapkan sesuai dengan keinginannya. Melalui tayangan TV dan internet sangat mudah untuk diakses. Tapi sebagian besar tayangan-tayangan TV sekarang ini jauh dari kata mendidik. Dan ini yang setiap hari dikonsumsi oleh remaja (Media, September 2010). Tidak terasa bahwa hal tersebut memberikan dampak negatif yang  sungguh luar biasa bagi mereka juga bagi negara.
            Karena dampaknya sangat membahayakan masa depan bangsa dan negara, maka dalam rapat kerja Komisi I DPR RI dengan Dewan Pers diusulkan perlunya sensor tayangan infotainment. Bahkan ada sebagian pihak yang mendukung/menyetujui tayangan infotainment tersebut diharamkan.
          Lain halnya dengan tayangan TV yang bersifat religi, pendidikan  yang di dalamnya terdapat unsur character building dan sejenisnya, sedikit sekali peminatnya, pendukung dan fansnya. Program tersebut sangat sulit memperoleh predikat favorit, apalagi popular. Sebenarnya dalam program itu  terdapat pendidikan karakter yang penuh makna/arti dan sangat  bermanfaat serta dapat diambil untuk dijadiakan suri tauladan. Bagaimana cinta terhadap Tuhan, bagaimana sikap toleransi, sikap pemimpin yang memiliki rasa keadilan dan sebagainya. Tentu sikap/perilaku atau tindakan yang tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila. Dalam acara tersebut, pemerintah menaruh harapan besar atas partisipasi aktif masyarakat, utamanya remaja sebagai generasi penerus bangsa.
Telah banyak acuan yang berkaitan dengan pembangunan karakter bangsa (character building), baik melalui pendidikan formal (sekolah), non formal (kursus/balai latihan kerja) maupun informal (keluarga). Namun hasilnya belum memuaskan, bahkan cenderung merosot, karena semakin derasnya arus globalisasi yang sulit dibendung.
           Contoh character building pada masa orde baru, yaitu dengan P4 (36 butir P4). dan di era reformasi saat ini, Indonesia Heritage Foundation merumuskan nilai-nilai yang layak untuk diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi berkarakter yang disebut 9 Pilar Karakter, yakni : (1) cinta Tuhan dan kebenaran ; (2) bertanggung jawab, berdisiplin dan mandiri ; (3) Mempunyai amanah ; (4) bersikap hormat dan santun ; (5) mempunyai rasa kasih saying, kepedulian dan mampu kerja sama ; (6) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah ; (7) mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan ; (8) baik dan rendah hati ; (9) mempunyai toleransi dan cinta damai. Nilai-nilai itu kini semakin terkikis dari sanubari warga negeri ini. Untuk itulah melalui pendidikan karakter, nilai-nilai tersebut diharapkan dapat dipancangkan kembali di benak generasi penerus bangsa (Nur Miftahul Fuad, 2010).
         Sebagai inti tujuan character building/pembangunan karakter bangsa sebenarnya adalah mewujudkan insan yang memiliki kepribadian ( Berbudi Pekerti Luhur ) dan berakhlak mulia. Hal ini  memang mudah diucap, tetapi sulit diperbuat, mudah dikata, tetapi sulit terlaksana. Tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu jika dilihat wujudnya/ hasilnya masih samara-samar (belum jelas).
          Melihat uraian di atas, maka kita dapat membandingkan antara infotainment dengan character building, ibarat keduanya sama-sama memiliki  rapor. Dalam kurun waktu tertentu (misalnya: 1 tahun), jika diperhatikan masing-masing rapor tersebut terlihat jelas nilainya. Infotainment memiliki grafik nilai  selalu naik, sedangkan character building, grafik nilainya naik turun, kadang datar, bahkan terus menurun. Jika keduanya diibaratkan lagu, seperti lagu yang cuplikan syairnya berbunyi : Bagai melukis di atas Pasir, (untuk infotainment) , dan Bagai melukis di atas air (untuk character building). Atau dengan rumus :  I : C  =  P : B (I: Infotainment; C: Character building; P: Popular; B: Biasa). Walau demikian jangan putus asa, “Satukan tekad, samakan langkah, singsingkan lengan baju. Maju terus, pantang mundur”. Mari kita bangun karater bangsa ini dengan pendidikan karakter. Agar bangsa Indonesia ke depan tidak  sampai mengalami degradasi moral lagi. Sekali lagi, jangan pernah putus asa…. !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar